Vandalisme Masih Dianggap "Kriminalitas Kecil", Benarkah Itu Membuat Pelakunya Terlihat Hebat?
19 Juni 2026 - sudah dibaca 9 kali

Kota Satu Mimpi – Berdasarkan hasil survei terhadap sejumlah kelompok dan individu di Kota Satu Mimpi, vandalisme dinilai sebagai salah satu bentuk kriminalitas yang paling "kurang" atau paling rendah tingkatannya. Mayoritas responden beranggapan bahwa tindakan tersebut hanya sebatas mengotori atau merusak tampilan fasilitas umum.
Namun di balik anggapan tersebut, muncul pandangan lain yang patut menjadi bahan refleksi. Jika vandalisme memang dianggap tindakan yang rendah dan tidak memiliki nilai, mengapa masih ada kelompok atau individu yang menjadikannya sebagai sarana untuk mencari pengakuan?
Menuliskan nama kelompok di dinding, merusak fasilitas umum, atau meninggalkan jejak di tempat yang bukan miliknya sering kali diklaim sebagai bentuk eksistensi. Padahal, pengakuan yang diperoleh dari merusak sesuatu yang dibangun orang lain bukanlah prestasi, melainkan bukti ketidakmampuan menunjukkan identitas melalui cara yang lebih bermartabat.
Tidak sedikit pihak menilai bahwa kelompok yang merasa bangga karena namanya terpampang di tembok umum sebenarnya sedang menunjukkan satu hal: mereka ingin dikenal, tetapi tidak mampu dikenal karena karya, kontribusi, atau pencapaian. Akibatnya, tembok dan fasilitas publik dijadikan media pelampiasan untuk mencari perhatian.
Ironisnya, semakin besar sebuah kelompok mengaku kuat, kompak, dan berpengaruh, seharusnya semakin besar pula tanggung jawabnya dalam menjaga lingkungan sekitar. Sebab kekuatan sejati tidak diukur dari berapa banyak tembok yang berhasil dicoret, melainkan dari seberapa besar dampak positif yang mampu ditinggalkan.
Masyarakat pun menilai bahwa vandalisme bukan simbol keberanian. Merusak sesuatu yang tidak dibuat sendiri tidak membutuhkan keberanian yang besar. Justru keberanian sesungguhnya adalah membangun sesuatu yang bermanfaat dan berani mempertanggungjawabkan nama baik kelompok melalui tindakan yang positif.
Pada akhirnya, sebuah nama akan dikenang bukan karena berapa banyak coretan yang ditinggalkan, tetapi karena apa yang berhasil diberikan kepada lingkungan dan masyarakat. Karena siapa pun bisa meninggalkan noda, tetapi tidak semua orang mampu meninggalkan manfaat ``
Komentar
Belum ada komentar.